Posted on

Dinda Fitria Sabila

Aku terdiam dalam kebisuan yang telah tervonis dalam diriku sejak aku dilahirkan di dunia ini, bersyukurlah aku karena Tuhan masih memberiku mata yang cerah dan pandangan yang jelas untuk bisa menatap alam dan mendiskripsikannya lewat satuan kata-kata yang akan tersampaikan meski tidak melalui mulut yang kupunya.

Langit adalah teman aku berbicara dan bercengkerama setiap harinya, tidak perlu berbicara dengan mulut, sama denganku, ia menyampaikan keluh bahagianya padaku dan dengan mudahnya ku memahami.

Kedua mata ini memantulkan biasan warna biru cerah yang terlukis di langit, dan bibir ini menyunggingkan senyum begitu saja ketika melihatnya nampak di atas sana.

Pemandangan biru , biru , sangat biru itu menyempurnakan segalanya terhadapmu, laki-laki kala hari cerah.

Aku tidak tahu siapa namamu, tapi kau melewati jalanan yang terlihat dari jendela ku setiap harinya tanpa ku tahu dengan jelas kemana kau pergi dan darimana kau hadir. Tapi hatiku memberimu nama “Shǎnyào” , artinya bersinar. Semua orang…

Lihat pos aslinya 873 kata lagi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s